Feeds:
Tulisan
Komentar

G522

JAKARTA – Animo masyarakat terhadap ponsel qwerty memang tidak dapat dipungkiri. Oleh karena itulah Nexian pun menggelontorkan NX-G522, seharga Rp599.000.

“Nexian NX-G522 sudah didesain dengan dua tombol khusus berupa ikon Facebook dan Instant Messenger sehingga pelanggan tidak lagi harus masuk ke menu utama. Cukup sekali klik saja, pelanggan sudah dapat mengakses langsung Facebook maupun Yahoo! Messenger. Tidak hanya itu, untuk komunikasi ke jejaring sosial lain seperti Friendster dan chatting melalui MSN pun sudah tersedia menu khusus agar pelanggan lebih mudah untuk mengaksesnya,” ujar Presiden Direktur PT Metrotech Jaya Komunika Martono Jaya Kusuma.

Nexian Chatting hadir dengan empat warna yang menarik, yakni hitam, putih, kuning, dan merah yang disesuaikan dengan calon pelanggan yang berjiwa muda. Kecantikan ponsel ber-keypad Qwerty ini juga dilengkapi dengan kamera, FM radio, radio recorder, MP3 player, stereo speaker, dan voice recorder.

Menurut Martono, pamor ponsel Qwerty masih akan berlangsung tahun depan. Bahkan ia sendiri belum bisa menargetkan kapan tren ponsel qwerty akan menurun.

“Tahun ini tren-nya akan terus berlanjut seiring dengan segmen yang masih terbuka luas. Nantinya malah akan terjadi seleksi alam terhadap ponsel-ponsel dengan desain yang sama. Perusahaan dengan layanan purna jual yang lengkap dan memiliki produk inovatif akan bisa bertahan di pasar,” ujar Martono.

Saat ini Nexian, menurut Martono, Nexian telah menjual lebih dari 1 juta unit ponsel qwerty yang dibundle dengan empat operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Satu merek oleh Telkomsel, dua merek oleh XL, Indosat dua merek, dan TelkomFlexi satu mereka. Sampai akhir tahun, Martono optimistis Nexian akan mencapai total penjualan dua juta unit.

NX-G522 sendiri, atau yang disebut sebagai Nexian Chatting saat ini dibundle dengan Telkomsel. Pelanggan dapat menikmati gratis internet 3 MB per bulan selama 6 bulan bila mengisi pulsa Rp 40.000 sampai dengan Rp 50.000 serta gratis internet 5 MB per bulan selama 6 bulan jika mengisi pulsa lebih dari Rp 50.000.

Saking murahnya, hanya Rp599.000, Nexian diklaim sebagai ponsel qwerty termurah saat ini. (srn)

pasti langsung dipecat si presenter prianya…..ato mugkin mereka lanjut dibelakang…hehehe…who knows??

sumber:www.rumahabi.info

bob_sadinoTitik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

BUPATI MALANG PENGUMUMAN Nomor : 810/2592/421.208/2009 Tentang PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN MALANG FORMASI TAHUN 2009 Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Malang tanggal 23 Oktober 2009 Nomor : 800 /224/ 421.208/2009 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah Dari Pelamar Umum Kabupaten Malang Tahun Anggaran 2009, Pemerintah Kabupaten Malang membuka kesempatan bagi Warga Negara Indonesia yang berminat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang, dengan ketentuan sebagai berikut :

download FORMASI lengkap disini

Pekalongan, Cybernews. Peristiwa memilukan terjadi di RT1 RW3, Kelurahan Gamer, Pekalongan Timur, Jumat (30/10) malam. Seorang bapak bernama Widiyanto (30) tega membanting anak kandungnya, Shinta, yang masih berusia empat bulan. Akibat perbuatannya tersebut, korban dilarikan di RS Kalisari Batang dan setelah mendapat perawatan semalam, korban meninggal dunia.

Sedangkan pelaku setelah kejadian tersebut langsung kabur meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarganya. Polisi kini sedang mencari keberadaan tersangka ke sejumlah tempat yang sering dikunjungi Widiyanto.

Kejadian itu bermula ketika ibu korban, Kurniatin (18), sedang menyuapi anaknya yang saat itu masih tidak enak badan. Tak lama, suaminya datang dan Kurniatin meminta tolong Widiyanto untuk menggendong putrinya yang sempat muntah-muntah dan mengenai baju ibunya.

Saat digendong bapaknya, Shinta terus menerus menangis. Melihat hal itu, pelaku diduga jengkel dan memukul bagian pantat anaknya cukup keras. Kurniatin yang menyaksikan perbuatan suaminya langsung marah dan meminta supaya tidak melakukannya lagi.

“Pada saat itu, saya bilang kepada suami pokoknya tidak boleh memukul anaknya lagi,” ujar dia, kemarin.

Mendengar perkataan isterinya, pelaku bukannya sadar malahan bertambah marah. Selanjutnya, dia berlari menuju ke depan rumah, tepatnya di teras. Entah setan apa yang menempel ke tubuh laki-laki itu, Shinta yang berada di bopongannya langsung dibanting ke tanah.

Menyaksikan kejadian tersebut, Kurniatin sangat terkejut dan mengambil anaknya. Selanjutnya, dia meminta suaminya membawa putrinya ke rumah sakit. Namun hal itu tidak dilakukannya, bahkan pelaku malahan kabur.

Setelah semalam dirawat di rumah sakit, nyawa korban tidak bisa tertolong. Menurut keterangan polisi, yang menyebabkan korban meninggal dunia karena tengkuk bayi itu patah. Mendengar jiwa putrinya tidak bisa diselamatkan, Kurniatin langsung syok dan terus menerus memanggil anaknya.

Kapolresta Pekalongan AKBP Dr Aris Budiman MSI melalui Kasat Reskrim AKP Purwanto yang didampingi Kaur Bin Ops Reskrim Iptu Herie Purwanto menjelaskan, pihaknya kini sedang mencari pelaku. Saat ini, mereka masih meminta keterangan beberapa orang yang disinyalir mengetahui keberadaan pelaku.

Terpisah, Direktur RSUD Bendan dr Bambang ketika dimintai tanggapannya mengenai peristiwa memilukan itu menjelaskan,
”Macan saja tidak akan memakan anaknya sendiri, apalagi manusia. Dengan demikian, psikis pelaku perlu diperiksakan,” tegasnya.

JAKARTA – Saat bersepeda di Ancol Minggu kemarin, Anang Hermansyah membawa seorang wanita cantik yang sepintas wajahnya mirip dengan Krisdayanti (KD). Siapakah dia? Benarkah dia calon istri Anang? Ini dia jawabannya.

“Hanya orang bodoh yang bilang itu pacar aku. Kalau orang bodoh pasti langsung mengira dan menulis itu pacar aku, calon istri aku. Apa aku pernah bilang itu pacar aku? Itu bohong,” beber Anang saat ditemui di rukonya di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2009) malam.

Wanita berkulit putih dan berambut hitam panjang itu memang sepintas wajahnya mirip KD ketika masih berusia 20 tahun. Sepanjang mengikuti kegiatan bersepeda di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara, Minggu, 25 Oktober 2009, wanita itu akrab dengan anak Anang, Aurel dan Azriel.

Wanita itu tak sungkan merangkul dan memberikan perhatian kepada Aurel dan Azriel. Putri sulung Anang, Aurel, pun tampak sangat akrab dan menikmati kebersamaan tersebut.

Siapakah wanita misterius itu? Akhirnya, Anang mau membuka kunci mulutnya.

“Dia itu Windy, dia penyanyi di sini. Dia salah satu artis di sini. Kalau yang di Balai Sarbini itu namanya Nikita. Dia juga salah satu artis di sini. Saya tidak ada hubungan apa-apa sama sekali,” jelas penembang Separuh Jiwaku Pergi itu.

Anang tampak kurang suka jika wajah Windy disamakan dengan KD.

“Itu enggak ada hubungannya,” tegasnya.

Saat KD menggelar jumpa pers di rumahnya di hari Minggu yang sama, KD mengomentari penampilan Windy dengan menyebut Anang berselera bagus. Anda ingin tahu apa komentar Anang atas jawaban KD itu?

“Ya berarti itu memang bagus. Kalau dia bilang selera saya jelek, berarti dia jelek dong,” sindirnya. (ang)

dukungBibitChandra-dalamJakarta – Jumlah dukungan untuk Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah di jejaring sosial Facebook melonjak. Dalam 2 jam, jumlah anggota grup 1 Juta Facebookers Dukung Chandra dan Bibit naik hampir 1.000 orang.

Pantauan detikcom, Jumat (30/10/2009) pukul 08.30 WIB, jumlah anggota grup itu mencapai 1.137 orang. Padahal 2 jam sebelumnya jumlahnya hanya 164 orang.

Akun grup yang dibuat oleh dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu bernama Usman Yasin ini rupanya menarik minat banyak orang. Mereka ingin bersatu padu membela Bibit dan Chandra.

“Saya cicak juga. Saya ingin bersatu dengan semua cicak melawan si boyo (buaya),” demikian tulis salah seorang anggota, Rita D Suradja, dalam wall.
(sho/asy)

 

sumber : detiknews.com

Jakarta – Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, dua pimpinan KPK nonaktif, akhirnya ditahan Mabes Polri. Keduanya disangkakan tindak pidana pemerasan dan penyalahgunaan wewenang.

Bagaimana kisah hukum ini dimulai? Kisah ini berawal dari kabar bocornya penyadapan terhadap dugaan kasus penyuapan nasabah Bank Century. Dalam proses penyadapan itu, nomor handphone Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji ikut tersadap, karena berhubungan dengan pihak nasabah Bank Century.

Lantas bagaimana selanjutnya? Berikut kronologi hingga keduanya dikenakan pasal 23 UU No 31/1999 jo pasal 15 UU No 20/2001 jo ps 421 KUHP tentang penyalahgunaan wewenang dan pasal 12 (e) UU 31/1999, jo UU No 20/2001 tentang pemerasan.

4 Agustus 2009

Testimoni Antasari Azhar beredar. Isinya menyudutkan para komisioner KPK lainnya. Antasari dalam testimoninya menuding ada dugaan suap terkait kasus yang ditangani KPK. Antasari diketahui menemui tersangka korupsi SKRT Anggoro Widjojo di Singapura

11 Agustus 2009

KPK melaporkan pembuatan surat pencabutan cekal palsu ke Polda Metro Jaya. Ini berkaitan dengan beredarnya surat cekal palsu itu

19 Agustus 2009

Polisi menahan Ari Muladi terkait penerimaan dana dari PT Masaro. Dia dikenai pasal penipuan dan penggelapan. Ari awalnya mengaku sebagai orang yang memberikan suap ke pimpinan KPK. Ini dia sebut dalam dokumen 15 Juli. Namun kemudian dia mencabutnya, dan mengaku tidak kenal pimpinan KPK

11 September 2009

Polisi memeriksa 4 pimpinan KPK atas laporan Antasari Azhar. Mereka yakni Chandra M Hamzah, Bibit Samad Rianto, M Jasin dan Haryono Umar.

15 September 2009

Polisi menetapkan Bibit dan Chandra sebagai tersangka. Pasal penyalahgunaan wewenang dan pemerasan disangkakan pada keduanya

16 September 2009

Chandra dan Bibit dikenakan wajib lapor, tidak ditahan

2-5 Oktober 2009

Tim pengacara KPK melaporkan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duaji ke Presiden SBY dan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri. Susno dinilai melanggar etika profesi karena menemui Anggoro Widjaja pada 10 Juli 2009 di Singapura, padahal Anggoro resmi ditetapkan buron KPK pada 7 Juli 2009

9 Oktober 2009

Berkas Chandra dikembalikan Kejagung ke Polri, dianggap belum lengkap

16 Oktober 2009

Ari Muladi dibebaskan, masa penahanannya habis. Sebelumnya, pada 14 Oktober berkas Ari dikembalikan Kejagung ke Polri

20 Oktober 2009

Berkas Bibit dan Chandra dikembalikan Kejagung ke polisi karena belum lengkap

23 Oktober 2009

Transkrip rekaman rekayasa kriminalisasi KPK beredar. Isinya percakapan orang yang diduga adik buron KPK, Anggodo Widjojo dengan petinggi di Kejagung yang diduga suara eks Jamintel Wisnu Subroto dan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga. Percakapan pada Juli-Agustus 2009 itu disebut-sebut merancang kriminalisasi KPK. Nama petinggi kepolisian juga disebut, dan nama SBY ikut dicatut

26 Oktober 2009

Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean mengakui bila rekaman itu benar-benar ada

27 dan 28 Oktober 2009

Juru bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menyebut bila nama SBY dicatut. Presiden juga memerintahkan pengusutan. Sedang Wakil Jaksa Agung AH Ritonga juga menggelar jumpa pers, dia merasa di dalam rekaman bukan suaranya. Mantan Jamintel Wisnu Subroto mengaku rekaman itu.

29 Oktober 2009

Mabes Polri mengumumkan penahanan Chandra dan Bibit, dengan alasan dikhawatirkan menggalang opini dengan menggelar jumpa pers

29 Oktober 2009

Chandra dan Bibit ditahan di Rutan Bareskrim Polri, saat melakukan wajib lapor. Sebelumnya mereka mengikuti sidang uji materi UU KPK di Mahkamah Konstitusi. (ndr/asy)

sumber: detiknews.com

JAKARTA – Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi non aktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian RI dalam perkara dugaan penyalahgunaan wewenang. Banyak pihak meragukan kasus ini, bahkan tak sedikit yang mengganggap terseretnya kedua wakil ketua KPK bidang penindakan itu adalah rekayasa semata untuk menggembosi keberadaan KPK.

Belakangan, kuasa hukum Bibit-Chandra, Ahmad Rivai mengaku memiliki bukti rekaman rekayasa kasus KPK. Bibit pun sempat menuturkan bukti tersebut sudah ditangan Ketua KPK sementara Tumpak Hatorangan Panggabean.

Rekaman tersebut diduga berisikan percakapan antara Anggodo Widjojo dengan Wisnu Subroto (mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen) serta beberapa orang lainnya. Namun, nama Abdul Hakim Ritonga  (Wakil Jaksa Agung) kerap disebut. Dalam percakapan terkuak rencana untuk menyeret pimpinan KPK dalam perkara suap dari bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo.

Berikut cuplikan transkrip rekaman rekayasa kasus KPK yang diperoleh sejumlah wartawan.

Wisnu ke Anggodo (23 juli 2009)

“Bagaimana perkembangannya,”
“ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes”
“pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya R (nama
salah satu pucuk pimpinan kejaksaan), minggu ini, terus balik ke sini,
terus action”
“RI-I belum”
“Udah-udah, aku masih mencocokkan tanggal”

Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009)

“Yo pokoke saiki Berita Acarane kene dikompliti”
“wes gandeng karo Ritonga kok dek’e”
“janji ambek Ritonga, final gelar iku sama kejaksaan lagi, trakhir senen”
“…sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?”
“lha kon takok’o Truno, tho”"yo mengko bengi, ngko bengi dek’e”

Hadi Atmoko ke Anggodo (27 Juli 2009)
“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Far semua,”
“sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari
itu Pak”Sama pembuktian lagi waktu Ari kesana, ada pertemuan rapat
dengan KPK Pak”
“Ada pertemuan di nya di ruang rapat Chandra”

Anggodo ke Kosasih (28 Juli 2009)
“Kos, itu kronologis jangan Lu kasih dial oh Kos”
“Jangan dikasihkan soalnya Edi sudah berseberangan”
“Cuman Lu harus ngomong sama dia:’terpaksa Lu harus jadi saksi’,
karena Chandra Lu yang perintah, kalao nggak, nggak bisa nggandeng”

Anggodo ke seorang wanita (28 Juli 2009)
“Besok kon tak ente…, ngomong ke Ritonga, Edi Sumarsono itu bajingan
bener, sebenarnya dia mengingkari semua”
“besok penting ngomong. Edi ngingkari Pak, padahal Antasari bawa Chandra”

Anggodo ke Par (penyidik) (29 Juli 2009)
“Kelihatannya kronologis saya yang benar”
“Iya sudah benar kok, saya lihat, di surat lalulintas. Saya sudah
ngecek ke Imigrasi, sudah benar kok”

Anggodo ke Wisnu (29 Juli 2009)
“Terus gimana Pak, mengenai Edi gimana Pak”
“Edi udah tak omongken Irwan apa. Ini bukan sono yang salah, kita-kita
ini yang jadi salah”
“Iya, padahal ia saksi kunci Chandra”
“Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu, gak apa-apa kan Pak”
“Nggak apa-apa, kalau dari Wisnu nggak apa-apalah”
“Kalau kita ngikutin, kan berarti saya ngaku Irwan kan. Cuma kalau dia
nutupin dia yang perintah…perintahnya Antasari suruh ngaku ke Chandra
itu ga ngaku. Terus siapa yang ngaku”
“ya you sama ARI”
“Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra”
“Nggak,’saya dengar dari Edi”
“Iya dari Edi, emang perintahnya dia Pak. Lha Edinya nggak mau ngaku,
gitu Pak,’dia nggak kenal Chandra, saya ndak nyuruh ngasihin duit,’
gimana bos?”
“Ya ndak apa-apa”

Anggodo ke Wisnu (30 Juli 2009)
“Pak tadi jadi ketemu?”
“Udah, akhirnya Kosasih yang tau persis teknis di sana. Suruh
dikompromikan disana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Sus, dia juga
ketemu Pak Sus lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku
susah kita.”

“Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra
atas perintah Antasari”
“Nah itu”
“Wong waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa
ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu
kejadian”
“Bohong, nggak ada kejadian, kamuflase saja.”
“Nggak ada memang. Jadi dia cuma dikasih tau disuruh Ari gitu. Dia
curiga duite dimakan Ari.”
“Bukan sial Ari-nya Pak, dia cerita pada waktu ke KPK dia yang minta
Ari, kalau ditanya saya bilang Edi ada disitu, diwalik sama-sama doa,
Ari yang suruh ngomong dia ngomong dia ada. Kalau itu saya ga jadi
masalah pak, itu saya suruh…”
“Pokoknya yang kunci-kuncinya itu saya sudah ngomong sama Kosasih,
kalo tidak ada lagi…nyampe…ya berarti ya enggak bisa kasus ini gitu”
“Yang penting buat saya Pak si Ari ini, dia ngurusi Ade Rahardja
segala. Ujung-ujungnya dia dapet perintah nyerahkan ke Chandra itu
siapa Pak? Kan nggak nyambung pak”
“Bukan Pak, dia memerintahkan nyerahken ke Chandra yang Bapak juga
tahu kan, karena kalo ga ada yang merintah Chandra Pak, nggak nyambung
uang itu lho’
“Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau edi nggak ngaku ya
biarin yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu”
“kan saksinya kurang satu”
“Saksinya akan sudah 2, Ari sama Anggodo”
“Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana kan”
“kenapa dana itu dikeluarkan, karena saya disuruh si Edi kan, sama
saja kan, ha ha ha…”
“suruh dia ngaku lah Pak, kalao temenan kaya gini ya percuma pak punya temen.”
“Susno dari awal berangkat sama saya ke Singapura. Itu dia sudah tahu
Toni itu saya, sudah ngerti Pak. Yang penting dia nggak usah
masalahin. Itu kan urusan penyidik”Yang penting dia ngakuin itu bahwa
dia yang merintahkan untuk nyogok Chandra, itu aja”
“Sekarang begini, dia perintahkan kan udah Ari denger, you denger kan.
Sudah selesai…”
“Tapi, kalo dia nggak Bantu kita Pak, terjerumus. Dia dibenci sama Susno”
“Biarin aja, tapi nyatanya dia ngomong dipanggil Susno”

Anggodo dengan seorang wanita (6 Agustus 2009)

“iyo tapi ditakono tanda tangani teke sopo, iya toh gak iso jawab.
Modele bajingan kabeh, Yang. Chandra iku yo, wis blesno ae Yang, ojo
ragu-ragu…”

Anggodo dengan …(7 Agustus 2009)

“menurut bosnya Trunojoyo, kalau bisa besok sudah keluar”
“Male bilang tidka bagus, karena pemberitaannya hari minggu, orang
sedang libur. Bagusnya Senin pagi, langsung main”
“Truno minta TV dikontak hari ini, supaya besok counternya dari Anggoro”

Anggodo dengan …(8 Agustus 2009)

“Nggak usah ngomong sama penyidik. Cuma abang saja tahu bahwa BAP nya
Ari tuh seperti itu. Jadi dalam posisi dia BAP, masih sesuai apa yang
dia anu. Jangan sampai dia berpikir, kita bohong”
“Siap Bang”
“Sama harus dikaitkan ini, seperti sindikat Edi, Ari sama KPK satu
sindikat mau memeras kita, ya Bang”
“iya”
“Intinya si Ari sudah di BAP seperti kronologis. Kenapa kok kita
laporkan Ari itu. Kenapa sudah laporan begini kok dia melarikan diri.
Gitu loh. Dan si Edi itu di BAP itu nggak ngaku. Kit anggak usah
ngomong. Pokoknya si edy nggak tahu kita.
“Bang, nanti maksudnya di BAP kita nantinya, inti bahwa pengakuan itu Bang”
“iya”
“sekarang jangan dibuka dulu. Maksudnya status si Ari itu, kita merasa
Ari sama Edy dan ini tuh, ini kita diperas KPK sudah kita bayar.
Kenapa jadi masalah begini. Gitu loh Bos”
“Iya”
“menurut pengakuan Ari, dia sudah membayar seluruh dana teresbut
kepada orang-orang KPK, nggak tahu siapa”
“Betul”

Alex dengan Anggodo (10 Agustus 2009)

“Secara keseluruhan apik. Anggoro nggak lari”
“Kenceng dia ngomonge”
“Kenceng. Tak rekam banter mau”
“Y owes. Terus poin-poinnya tersasar, kan?”
“Sudah”
“Tidak lari. Ciamik dee njelasnoe”
“Ini ada suatu rekayasa, nampak dari pemanggilan jadi saksi terus
tersangka. Tenggat waktu 9 bulan. Sudah kondusif. Moro-moro karena ada
testimony, muncul pemanggilan sebagai tersangka. Secara keseluruhan
oke.”
“Mengenai cekal, salah sasaran”
“Ya dalam kasus Yusuf Faisal, kok dicekal Anggoro. Itu bagaimana.
Penyitaan dan penggeledahan juga salah sasaran. Dalam kasus Yusuf
Faisal, kok yang digeledah Masaro. Pokoknya intinya sudah masuk
semua.”

Alex dengan Anggodo dan Robert (10 Agustus 2009)

“Iya memang dicuplikan. Nggak banyak, tapi intinya kita berkelit,
kalau ini bukan penyuapan. Karena di awal itu, beritanya dari Antasari
dulu, testimoni itu. Jadi dia cuplik dari Antasari, terus baru
disambung ke kita, jadi dijelaskan sama Bonaran, kalo itu bukan
penyuapan. Dan permasalahannya, kedatangan Antasari menemui Anggoro
itu juga membawa konsekwensi Antasari bisa dipermasalahkan”
“Ngomong gimana? Pengacara dari Anggoro press rilis hari ini.”

Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri pernah membantah soal adanya rekayasa dibalik status tersangka Bibit-Chandra. “Di sini kita memperlihatkan dalam proses ini betul-betul transparan. Kalau katanya ada rekayasa, orang tersangkanya semua ada di luar. Yang direkayasa apa? Nggak ada,” ujarnya di jakarta, Jumat, 23 Oktober 2009.

Sama halnya dengan Kepolisian, secara terpisah Kejagung ikut membantah kabar rekayasa kriminalisasi pimpinan KPK. “Apakah itu rekayasa atau tidak bukan urusan kami, kita akan buktikan di persidangan. Yang terpenting apakah perbuatan itu memenuhi unsur yang disangkakan atau tidak oleh penyidik,” jelas Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendy.

Polisi telah menetapkan Bibit dan Chandra sebagai tersangka. Keduanya dijerat dengan Pasal 23 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Junto Pasal 421 KUHP atas dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam melakukan pencekalan terhadap buron Anggoro dan pencabutan cekal Djoko S Tjandra dalam kasus berbeda.

Belakangan polisi mengendus dugaan penerimaan suap oleh dua tersangka dari bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo. Suap itu ditujukan untuk mengentikan penanganan perkara suap Anggoro agar KPK menghentikan penanganan perkara suap proyek SKRT di Departemen Kehutanan.

sumber:okezone.com

Tulisan Sebelumnya »